Minggu, 24 Mei 2015

PSYCHO STORY

part 3 - mencari kebenaran

dari pada lama nunggu part 3 nya mending langsung ku share aja , soalnya mendekati ulangan ini jadi gak tau kapan bisa ngeshare lagi . okeh ini dia part 3 PSYCHO STORY made by MADA


AD POV
 Tim kamipun mengumpulkan semua bukti berupa obat bius dan pisau serta tas, kamipun mendapat sebuah sidik jari yang kami teka mungkin adalah sidik jari dari tersangka. Tim kamipun segera mengumpulkan bukti tersebut dan membawanya kepada detektif ME. Tetapi kasus baru datang lagi kepada kami, kamipun segera menuju ketempat kejadian.

@AL’s house
Astaga, kami sangat kaget, ternyata korban selanjutnya adalah teman dari KL yaitu AL, yang belum lama ini kami interogasi, bagaimana ini bisa terjadi? Apakah tersangkanya adalah orang yang sama? Ya ampun, kasus ini sangat membuat tim kami kebingungan. Kamipun mengumpulkan bukti dan mendapatkan sidik jari yang sama persis dengan yang kami temukan di rumah KL. Astaga, siapa orang ini? Akhirnya tim kami yang kewalahan dengan kasus ini segera membawa kasus, bukti, dan mayat korban menuju kepada detektif ME untuk segera ditindak lanjuti.

ME pov

ME : “Ya ampun, kasus baru untuk tim detektif kami, kami sudah lama tidak mendapat kasus yang sulit seperti ini”. Aku dan polisi AD memang sudah sejak lama berteman dan kamipun dapat bekerja sama sampai sekarang, mungkin ia mengirimkan kasus ini padaku karena timnya kesulitan. Baiklah mungkin aku dan timku dapat sedikit membantu menyelesaikan kasusnya.

ME :“hai polisi AD, sudah lama tidak bertemu, ada apa datang kemari? Apa anda perlu bantuan?
AD :“hai juga, tentu saja jika saya datang kepada anda pasti saya memerlukan bantuan anda dalam memecahkan kasus saya yang satu ini.”
ME :”baiklah saya dan tim saya akan membantu memecahkan masalah ini, kau tau kan bahwa tim kami sangat professional. Serahkan saja pada tim kami.

Tim kami pun melakukan penyelidikan, kami mengotopsi jenazah korban, kami mendapatkan kandungan obat bius pada salah satu korban. Yah, akhirnya pelan-pelan kasus ini mulai terpecahkan. Tim kami hanya tinggal mencari orang yang memiliki sidik jari seperti yang kami temukan. Kami pun mengirim data sidik jari tersebut kepada detektif bagian data Negara. Mereka mendapatkan hasilnya setelah tim kami menunggu selama 3 hari, hasilnya adalah seorang anak laki-laki yang berumur hampir sama dengan korban dengan paras yang sangat tampan bagi anak seusianya. Tim kamipun menyelidiki ke sekolah korban dan menyelidiki teman korban yang berjenis kelamin laki-laki. Ternyata kami cukup sulit menemukannya, karena KL dan AL punya banyak teman, mereka adalah anak-anak yang pandai bergaul. Teman-temannya bilang bahwa belakangan ini sebelum KL meninggal, ia berteman dan sempat ditembak (menyatakan cinta) oleh seorang anak laki-laki, tetapi sayang sekali, anak laki-laki itu ditolak oleh KL. Oke, kami akan menyelidiki anak itu, ia berada dikelas sebelah dari kelas KL. Kamipun segera membawanya ke kantor pusat detektif untuk menanyakan sesuatu tentang KL. Ia sempat menyukai KL, mungkin saja selama ia menyukai KL, ia mencari tahu informasi tentang KL. Aku tidak yakin anak sepolos ia bisa melakukan kejahatan, makanya aku dan timku segera membawanya.


@kantor pusat detektif

ME :”apa kamu anak yang  bernama AS?, apa kamu mengenal KL dengan baik?”
AS :”ya tentu saja, aku mengenalnya dengan baik, ia pernah memenuhi hatiku dengan kecantikannya tapi sayang sekali hatinya sangat busuk. Aku muak dengannya.”
ME :”hey tenang-tenang, jangan terbawa emosi dulu, mari kita selesaikan pertanyaan yang sudah kusiapkan dan ini akan berakhir dengan cepat jika kita langsung ke inti pertemuan ini.”*ME bertanya dengan penuh kecurigaan pada AS*
AS :”apa yang ingin kau ketahui tentangnya? Bahkan ia sudah pergi dari hatiku. Aku bahkan tidak peduli padanya, ia tidak pantas menjadi manusia didunia ini. Apa yang bisa diandalkan dari anak orang kaya yang kerjaannya hanya mengolok orang rendah sepertiku.”
ME :”jawab saja yang jujur, apa kau mengenal KL dengan baik? Apa kau pernah kerumahnya dan memasak bersama tidak lama sebelum ia meninggal?”
AS :”apa kau menuduhku sebagai pembunuh dari semua ini?”
ME :”Tidak, aku hanya curiga. Kenapa ada sidik jarimu di pisau yang berada dirumahnya dan berada dirumah AL?”
AS :”BAIKLAH!!!! AKU MUAK DENGAN DUNIA INI!!!! SEMUA ITU BENAR, AKU ADALAH PEMBUNUHNYA, AKU MUAK DENGAN SEMUA INI. KL YANG MENYEBABKAN AKU MENJADI SEPERTI INI” *jawab AS dengan emosi yang memuncak*
ME :”kenapa kau melakukan ini semua hanya karena sakit hati? Apa gunanya kau didunia ini? Apa tidak ada perempuan lain selain dia yang menarik hatimu? Pedulikanlah orangtua mu, bukan hanya dirimu sendiri, apa kau sudah gila?”
AS :”YA AKU MEMANG SUDAH GILA, PIKIRANKU HANYA ADA PADANYA, IA SUDAH HILANG DAN BERARTI PIKIRANKU JUGA SUDAH HILANG. AKU INGIN MATI SAJA BERSAMANYA.”
ME :”tim detektif kasus baru segera masuk keruangan interogasi, tersangka sudah didapatkan.” ME berbicara lewat telepon, ia menegaskan bahwa tersangka sudah ditemukan*


          Tim detektif beserta tim polisi AD pun sampai diruang interogasi dan membuat laporan bahwa AS dinyatakan sebagai tersangka dari dua kasus yang berbeda.

AS pov
          Hai, namaku AS. Aku adalah seorang tahanan karena kasus pembunuhan yang kulakukan pada wanita pujaanku beserta teman dan keluarganya, aku tenang sekarang, aku sudah berada disini selama 7 tahun lamanya, besok adalah hari pelepasanku dipenjara. Aku merencanakan sesuatu untuk diriku sendiri. Aku ingin bahagia bersama orang yang masih kucintai. Jujur, ia tak pernah lepas dari pikiranku sampai sekarang.

@AS’s house
          Akhirnya aku sampai juga dirumahku, bertemu dengan orang tuaku yang tampak sangat senang bercampur sedih ketika melihatku, ya ampun, aku rindu sekali dengan mereka. Tenanglah ayah dan ibuku, malam mini kalian tidak akan sedih lagi ketika melihatku.

@malam hari
          Aku sudah menyiapkan semuanya untuk diriku sendiri. Peralatan yang kugunakan untuk membuat diriku bahagia pun sudah ku siapkan. Aku segera membawa orang tua ku menuju ke gudang. Aku menyuruh mereka duduk dikursi yang sudah kusediakan. Mereka menurutinya tanpa protes dan tanpa bertanya. Ketika mereka duduk, aku langsung menyuntikkan mereka obat bius dan mereka langsung pingsan. Selama mereka pingsan, aku mengikat mereka dengan tali dikursi tersebut. Setelah 10 menit, mereka terbangun dengan tubuh yang terikat dikursi dan mulut yang tersumbat kain.

AS :”maaf ayah, ibu, aku tidak bermaksud melakukan ini pada kalian. Aku hanya ingin bahagia dengan caraku sendiri. Maaf aku tidak pernah membahagiakan kalian dalam bidang belajar ataupun keahlianku. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih pada kalian karena sudah menjaga dan merawat anak brengsek sepertiku yang hanya bisa menyusahkan kalian berdua sebagai orangtua.”

          Akupun langsung melepaskan sumbatan kain dimulut mereka agar aku dapat mendengar kata-kata terakhir mereka. Aku langsung mengambil pisau dan mengarahkan pada tanganku dan kutorehkan ke tanganku. Orangtua ku menangis dan memohon agar aku tidak melanjutkannya.

AS’s parent :”nak, berhenti. Kami tidak menyesal mempunyai anak sepertimu. Kami akan menerimamu dikeluarga ini seperti dahulu. Lupakan semua kesalahanmu dan mulai lah hidup baru dengan kami. Kami mohon hanya itu yang kami minta sebagai orangtua. Jangan tinggalkan kami. Apa salah kami sebagai orangtua? Apa kami kurang menjaga dan merawatmu? Jika kau ingin bahagia dengan caramu, bawalah kami bersama mu juga. Kita dapat berbahagia sebagai keluarga.”
AS :”aku tidak bisa, maaf aku harus melakukan ini, maaf aku tidak menuruti kata kalian. Aku memang anak yang kurang ajar. Aku mohon tinggalkan dan relakan aku untuk pergi.”

          Akupun memasang kembali sumbatan kain dimulut mereka. Aku langsung mencongkel mataku dengan pisau yang aku pegang. Rasanya sangat sakit. Ternyata inikah yang dirasakan KL saat aku membunuhnya, baiklah aku akan berbahagia dengannya, aku harap KL dapat bahagia melihatku seperti sekarang. Tunggu aku sayangku, aku akan segera menyusulmu keneraka seperti janjiku padamu. Aku akan menikahimu disana, kita akan jadi pasangan sadis yang paling bahagia disana. Aku langsung menorehkan pisauku di urat yang berada dileherku dan seketika itu juga pandangan mataku yang masih utuh mulai kabur dan yang kudengar terakhir adalah teriakan orangtuaku. Selamat tinggal ayah dan ibu. Dan sambutlah aku wahai kekasihku.
         






Pembuat dan pengarang

-         M_A_D_A ( Maria ferreria , Athifah jamila , Dian novita , Annisa adela )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar